Menjawab Tantangan Maut

Minggu lalu, tepatnya pada hari kamis siang, saya menerima telepon dari Om Cim. Katanya Om Cim bersama gerombolan TKCC — Panji, Fajar dan D3LI (Om Rudy) — sedang berada di Bandung.

Memang setahu saya sehari sebelumnya telah beredar kabar di milis TKCC bahwa gerombolan ini akan melakukan survey acara Family Gathering di Jatiluhur. Rupanya karena perjalanan menuju Bandung melalui tol Cipularang tidak memakan waktu lama dari Jatiluhur, akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang di Bandung.

Singkatnya, pada sore hari itu saya berangkat menemui mereka di Rumah Mode Setiabudi. Awalnya saya menyangka mereka datang berempat dengan menggunakan satu mobil. Tapi ternyata.. mereka datang bersama keluarga masing-masing dengan empat mobil… 😛

Maka berkerumunlah kami sore itu di Rumah Mode, disambung dengan kongkow di rumah mertua D3LI yang tak jauh dari situ.

Pada saat itulah terlontar sebuah tantangan maut dari Om Cim. Rencananya pada Jumat malam keesokan harinya, akan diadakan acara makan malam di KTS dalam rangka merayakan ulang tahun Anto (entah yang keberapa). Dan saya ditantang untuk menghadiri acara ugal-ugalan itu.

Setelah melalui pertimbangan yang setengah matang, akhirnya saya memutuskan untuk datang. Singkat cerita, pada Jumat sore sekitar jam 5 saya sudah berada di pintu tol Pasteur. Perjalanan menuju Kafe Tenda Semanggi melalui tol Cipularang ditempuh dengan beberapa kendala seperti macet, hujan deras, dan yang terparah adalah mobil saya mengalami overheat. Sehingga saya baru tiba di KTS pada sekitar jam 8 malam.

Acara makan malam diselenggarakan di Pizza Hut KTS, dilanjutkan dengan nongkrong di lapangan parkir KTS. Sebenarnya kegiatan kumpul-kumpul di KTS ini sudah menjadi agenda rutin TKCC setiap Jumat malam. Namun malam itu sedikit berbeda karena ada perayaan ulang tahun si Beruang Madu. Lumayan rame yang datang malam itu.

Jam setengah dua belas gerombolan TKCC bubar dari KTS, dan saya langsung pulang ke Bandung. Dengan dikawal Oplet (Dwi), saya menuju gerbang tol Jakarta – Cikampek setelah sebelumnya mampir di SPBU.

Perjalanan menuju Bandung ditempuh dengan kendala yang kurang lebih sama, yaitu macet, hujan deras, dan yang paling ajaib adalah karena mungkin saking jarangnya saya melintasi tol Jakarta – Cikampek sehingga tikungan menuju Sadang pun terlewat. Bengong, terperangah, takjub sambil terus mengumpat.. begitulah reaksi saya ketika ujug-ujug terjebak dalam antrian gerbang tol Cikampek… Kampret..!!

Begitu keluar tol, saya langsung putar balik untuk masuk lagi ke gerbang tol Cikampek. Kemudian jalan pelan-pelan untuk memastikan agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Setelah memasuki tol Cipularang, baru dikebut lagi dan tiba di gerbang tol Pasteur sekitar jam 2 pagi.

Setibanya di Bandung saya langsung menuju Gasibu, parkir mobil, lalu nangkring di kursi penumpang Eterna Kang Dikwan trus geber-geberan di Supratman… 😀

—————————
Emangnya cuma orang Jakarta doang yang bisa makan siang di Bandung?   😛

One thought on “Menjawab Tantangan Maut”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>