Walaupun tak berlangsung lama, saya pernah menghabiskan masa kecil di Banda Aceh pada 1988-1989. Sedikit banyak ada beberapa kenangan yang masih teringat semasa tinggal di sana.
Saat itu saya tinggal di Jl. Prof. Madjid Ibrahim III, tepat di sisi Blang Padang, sebuah lapangan yang luasnya sekitar 4-6 kali lapangan sepak bola, beberapa ratus meter dari Masjid Raya Baiturrahman.
Bolos..!! Sekolah saya berada di sisi lain Blang Padang, di SMPN 1 Banda Aceh. Suatu hari sehabis mengikuti pelajaran olah raga di Blang Padang, saya bersama beberapa teman memilih untuk tidak mengikuti pelajaran berikutnya dan menghabiskan waktu dengan duduk-duduk di sudut Blang Padang, di bawah monumen pesawat DC-3 Seulawah, sambil merokok… 😛
Balap liar..!! Setiap malam minggu Blang Padang selalu ramai. Semakin malam, semakin banyak orang datang dan duduk di sepanjang sisi lapangan. Atraksi rutinnya adalah balap liar sepeda motor. Pembalap yang lumayan sering mendapat sambutan dari para penonton pada masa itu adalah pengendara Suzuki TRS merah, yang konon adalah seorang tukang ikan di Pasar Aceh.
Mancing..!! Hal lain yang tak terlupakan saat tinggal di Banda Aceh adalah memancing. Ulee Lheue berjarak tak jauh dari tempat tinggal saya. Cukup sering saya bersama teman-teman pergi memancing ke Ulee Lheue, di dermaga tua atau di jembatan penghubung Ulee Lheue dengan daratan utama. Kadang-kadang kami juga pergi memancing ke Lhok Nga, di tepi pantai karang.
Gempa..!! Pertama kali saya merasakan gempa bumi adalah di kota ini. Walaupun hanya berupa getaran selama beberapa detik pada saat kami sekeluarga sedang menonton tv, tapi itu adalah gempa bumi pertama dalam hidup saya.
Kenangan-kenangan semacam inilah yang terkadang muncul kembali dalam ingatan saya, terutama saat terjadi peristiwa-peristiwa besar di Aceh, seperti saat terjadi pemberontakan GAM, saat pemberlakuan Syariat Islam, dsb.
Dan kini saat bencana besar melanda Aceh, kenangan tersebut muncul kembali. Dapat dipastikan tempat-tempat yang dulu sering saya kunjungi sekarang telah musnah ditelan tsunami… 🙁
—————————
Turut berduka kepada rekan Harry Budiman yang istrinya hilang pada peristiwa tsunami di Aceh. Semoga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Harry Budiman adalah teman seangkatan saya di STMB yang baru tiga bulan lalu melangsungkan pernikahannya di Medan.